Selasa, 08 April 2014

Kepada Ras Pemimpin Bumi

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi. “Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? “Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Alangkah beruntung kalian diciptakan sebagai manusia, menjadi ras yang diunggulkan Tuhan untuk membuat kuasa di muka bumi. Bukan golongan Malaikat, Jin, Hewan, atau Tetumbuhan yang dipercaya memilkul amanat untuk mengurusnya.  Lantas apa maksud Tuhan menjadikan manusia yang sering menumpahkan darah juga berbuat kerusakan sebagai pemimpin di bumi?

Barangkali dengan tugas ini Tuhan menguji kelayakan kalian sebagai manusia, sudah seberapa pantas kalian dicintaiNya, sudah selayak apakah kalian mensyukuri pemberianNya tersebut. Amanat yang teramat berat memikul kepercayaan untuk mengurus kelangsungan hidup banyak makhluk di daratan maupun lautan yang sebegitu luas ini.

Di tahun ini kalian sebagai manusia-manusia yang hidup di Indonesia, kalian dihadapkan pada pemilihan pemimpin, dengan arti kecil seorang yang kalian sebut sebagai presiden, karena dalam arti  luas setiap manusia bisa diartikan pemimpin bagi diri dan lingkungannya sendiri.

Kalian diberi tugas memilih seseorang untuk diberikan kuasa memimpin bangsa yang kalian sebut Indonesia. Sesungguhnya ini semua rumit, ini bukan tentang kelangsungan hidup ras manusia saja, namun juga ras lain yang hidup disini. Kalian lupa sebagai manusia yang menjadi egois terlalu peduli terhadap urusan-urusan kalian sendiri.

Perlu kalian ingat, yang kalian pimpin bukanlah manusia saja. Ada banyak jenis hewan melata dari ujung Aceh hingga Papua, ada banyak Tumbuhan yang hidup di negri ini, Ada pula banyak sekali ikan-ikan yang berenang hilir mudik di setiap perairan negri ini.

Bagaimana memimpin negerimu, jika saat kalian berorasi dengan segala basa-basi banyak rumput dan semut kecil yang kalian injak? Banyak sekali pohon yang dipaku dengan gambar-gambar poster bangsamu yang menurutku tidak gagah sama sekali. Belum lagi sampah-sampah usai pesta demokrasi bangsa kalian usai. Sampah-sampah poster itu seenaknya kalian bakar dan mencemari si Udara, beberapa pula terbuang ke sungai dan menghambat jalur si Air untuk melaksanakan tugasnya menuju lautan.

Rabu, 02 April 2014

Kepulangan Teman

Subuh tadi aku mendengar berita duka yang dikabarkan pohon salak berwarna jingga. Duka dan luka saja membuatku bingung, keduanya sama-sama kepedihan. Oh mungkin luka ialah kepedihan yang bisa lihat secara fisik seperti borok barangkali. Sedang duka ialah kepedihan yang bermuara dalam batin.

Aku percaya bahwa manusia memiliki tiga unsur dalam dirinya. Akal, jasad, dan ruh, lalu ketiganya juga perlu makan agar mereka tak sakit atau mati. Jasad perlu nutrisi berupa nasi lauk pauk, Akal perlu ilmu, dan Ruh memerlukan ibadah (interaksi dengan Tuhan).

Berita duka dari si pohon salak tadi ialah kabar bahwa teman lamaku telah gugur dalam pertempuran melawan sakit jasad yang dideritanya. Konon ia terkena jenis racun yang sangat aneh, berbagai tabib telah ia datangi, namun tak kunjung juga kembali sehat.

Sabtu, 22 Maret 2014

malam, sinar, dan suara

siluet  insan ditikam malam
ditampar dosa, terkucil diantara jutaan sinar bintang
terkadang sunyi memiliki bunyi
setidaknya riuh bergemuruh dalam batok kepala sendiri


persimpangan jalan selalu membingungkan
nada-nada kegelapan mengusik tentram bukit hati yang landai
hanya ada dua pilihan, ke kiri atau ke kanan
tapi waktu enggan berkompromi untuk banyak berandai-andai


seakan semakin samar, padahal bola mata tak pernah berdusta
namun bisikan nurani ialah sebenar-benarnya suara
keindahan yang terlihat mata, tak selalu begitu adanya
mana yang nyata? dimensi semesta ada di hati dan di kepala

Jumat, 21 Maret 2014

Rabu, 19 Maret 2014

Perihal Apel Newton

Semua ini berawal dari kebengongan, ketidak puguhan aktivitas, random, bahkan mungkin chaos sehingga jadilah aku yang bengong melamun dan memandangi linimasa di twitter. Satu persatu akun yang berseliweran berkicau, bahkan beberapa ada juga yang menggonggong.


Sesungguhnya aku tak ingin bengong, inginku banyak berkicau juga, hanya saja saat ini aku seringnya bermain twitter via PC lantaran henpon androidku yang masih saja memerlukan perawatan di tukang service handphone karena dengan tak sengaja ia mandi besar oleh air yang tumpah di gelasku tempo lalu. Dan masalahnya ketika main twitter via PC dengan layar monitor yang besarnya sedaratan negara timor-timor bagi semut ini, ketika ada orang lain di belakangku, aku menjadi tak sebebas merpati untuk terbang, aku tak bisa ngetweet, entah mengapa jari-jariku kaku, ada perasaan kikuk tersendiri, padahal aku juga gak begitu yakin jika saudaraku si Nizar itu yang ada semenjak tadi siang disini memperhatikan apa yang bakal aku tweet.

Rabu, 12 Maret 2014

selalu ada do'a untuk dia aminkan

Sejatinya perayaan ialah rasa senang yang ditularkan.
Sederhananya perayaan adalah saat senyum dan tawa hadir di sekelilingmu.
Rumitnya perayaan yaitu pesta yang terlalu gemerlap menjadi hura-hura.

Seperti tahun-tahun yang lalu, kesunyian menjadi sebuah perayaan antara jiwanya dengan Tuhan. Dalam hidupnya, pria ini hanya pernah satu kali dengan sengaja merayakan ulang tahunnya. Saat itu usianya menginjak 5 tahun, dan kala itu kedua orang tuanya mengundang teman-temannya untuk hadir dalam rangka merayakan bertambahnya usia buah hatinya tersebut.

Minggu, 09 Maret 2014

Bukan Orang Jahat yang Banyak, Tapi Orang-orang Baik yang Diam


Pernahkah tersirat dalam benakmu, bahwa zaman ini memang begitu edan?

Ketika tak hentinya segala macam media memberitakan keburukan setiap harinya. Bahkan ketika baru saja tadi pagi kamu membuka mata dan melihat layar televisi, yang pertama kali kamu temui ialah berita-berita kriminal. Haruskah sepagi itu kita menyantap sarapan dengan menu yang begitu mengerikan?  Piring kosong dalam kepalamu yang seharusnya terisi dengan inspirasi, semangat hidup, juga rasa syukur itu harus  ditukar paksa dengan rasa takut, kengerian, dan hilangnya rasa percaya bahwa bumi yang kau pijak ialah tempat terbaik yang Tuhan anugrahkan pada Adam beserta turunannya.