Senin, 05 Mei 2014

Tepukan Magis Si Bos Sayur

Siang itu, hiduplah seorang lelaki seperti biasanya. Panasnya udara Bandung beserta bisingnya kendaraan bermotor di tengah kemacetan membuat pria itu ingin sekali membuka pakaiannya lalu ikut panjat pinang, sayangnya hari itu sedang tidak ada 17 Agustusan karena memang bukan bulang Agustus,  sehingga menyebabkan pria itu hanya bisa bersabar.

Pria tersebut tidak lain adalah aku yang menceritakan kisah ini sekarang. Juga aku yang barangkali pernah mencintai kamu, atau suatu saat nanti bisa saja akan mencintaimu dan mengajakmu hidup bersama selamanya, ya atur-atur aja asalkan kamu itu wanita dan kita cocok serta Tuhan takdirkan pastinya.

Kembali pada siang itu, sebuah siang dimana aku baru saja pulang dari kerja serabutanku, tak usah aku ceritakan aku kerja apa, karena itu tak akan membuat gajiku naik. Aku sedang dibuat kesal oleh kemacetan dan tentunya membuat aku ingin segera sampai ke rumah untuk segera tiduran di ubin dan mendinginkan suhu badan serta isi kepalaku yang mulai kepanasan.

Tapi sesampainya di rumah, henponku berdering dan rupanya ada sms dari Mamahku. Isinya begini,
“Ban, mamah lagi nganter dulu nenek ke bank ngambil uang pensiunannya kakek, kunci rumah dibawa mamah, kamu tunggu aja dulu di rumahnya nenek.”

Aku jadi berpikir perempuan itu emang sukanya gunain duit cowok, buktinya uang pensiunan almarhum kakekku yang udah wafat aja masih mereka embat. Hmmm…

Aku yang saat itu kelelahan bisa saja protes dan marah-marah kenapa kunci rumah gak mamah simpan aja di laci rumahnya nenek, dengan begitu aku bisa langsung ke rumah dan tiduran di ubin. Bisa sebetulnya aku tiduran juga di ubin rumah nenek saat itu, tapi aku suka malu kalau tiduran di ubin yang bukan rumahku, lebih tepatnya rumah si mamah sih karena aku belum bisa beli rumah sendiri.

Dengan alasan itu pula maka aku tidak protes terhadap mamahku, dan menjawab pesan singkat tadi dengan kata “iya” saja. Aku harus tahu diri kalau kunci rumah mamah bawa, toh itu memang rumah mamahku jadi terserah dia mau kuncinya dibawa atau diapakan juga terserah, selama ini masih dikasih tempat numpang aja udah syukur buat aku.

Rumah Nenekku dan Rumah Mamahku itu memang berdekatan, bisa dibilang tetanggaan. Nah ditengah bengongnya aku menunggu Mamah dan Nenekku pulang datanglah si Uwak Udung. (Uwak=Paman).  Dia aku panggil Uwak karena ia adalah kakak dari mamahku yang satu ibu tapi beda bapak. Maklumlah karena nenekku sebelum menikahi kakekku pernah menikah dengan cowok lain, yang tentunya sekarang udah jadi kakek-kakek lain. Begitupula kakekku sebelum menikah dengan nenekku dulu, pernah menikah dengan cewek lain, yang tsekarang pasti sudah jadi nenek-nenek juga tapi tentunya nenek orang lain bukan nenekku.

Dulu aku sempat galau juga ketika ditinggal pacar, tapi melihat ketabahan nenekku yang ditinggal mati kakekku aku menjadi termotivasi untuk kuat. Aku masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan nenek.

Aku cuma ditinggal pergi, masih bisa aku kejar lagi.  Nenek ditinggal mati, mau ngejar ke akhirat? Yakali.
Aku masih muda, bisa cari lagi. Nenek sudah tua giginya tinggal dua tapi gak hinggap di jendela, mau cari lagi?

Tapi sempat sih saat teman-temanku datang ke rumah, aku menawari salah satu teman. “Bro nenek gue galau nih semenjak kakek gue meninggal, lo mau gak nikah sama nenek gue? Tar kan gue jadi manggil lo kakek.” Terus dia jawab “Dih, gue sih mau aja, tapi gue gak sudi tar punya cucu kayak lo.” Sungguh itu jawaban yang menyakiti hatiku.

Oh iyah, si Uwak udung itu ialah saudagar sayur di pasar Caringin. Si Uwak datang ke rumah nenekku karena  ada keperluan katanya. Jadilah kami berdua menunggu di tengah rumah itu. Perawakannya gemuk, hitam, dan suka mengobrol layaknya bandar-bandar sayur lainnya. Siang itu pun si Uwak mengajakku ngobrol dengan membuka perbincangan kesana kemari.

Ia bercerita tentang solo karirnya sebagai bandar sayur. Ia bertutur penuh semangat, sampai-sampai semangatnya masyarakat pas agustusan panjat pinang yang disuruh pak lurah juga rasanya kalau dibandingin si Uwak Udung ini bercerita sudah jauh kalah.

Dalam rasa bangganya serta ceritanya yang penuh aroma berbagi ilmu tentang seluk beluk dunia bisnis persayuran itu aku bertanya, “Waaah..emang Uwak udah berapa lama bisa jadi sehebat itu  dalam bisnis sayur?”  beliau menjawab “hahaha dari 1991 sampai 2006, sekarang mah udah capek jadi diterusin si Udi. hahaha” Si Udi itu anaknya, seumuran denganku, dan tentunya cucu dari neneku juga tapi beda kakek.

Ajaibnya, setiap kali aku bertanya lalu si Uwak menjawab, ia selalu sambil tertawa dan menepuk bagian kakiku sebagai tanda keakraban. Sialnya saat itu kakiku sedang bisulan, dan tiap tepukkan si Uwak yang menuju kakiku selalu tepat mengenai bisulku itu. Duuh…

Kata Mamahku aku alergi telur, kalau makan telur mudah sekali langsung muncul bisul. Entahlah barangkali itu mitos, sugesti, atau betul adanya, yang jelas bisul yang kena tepuk itu sakit faktanya.

“Faaak…” kataku dalam hati, ingin sekali aku bilang kalau yang si Uwak tepuk itu tepat mengenai bisulku, tapi aku diam saja karena gak enak motong pembicaraan orang yang lebih tua, dan sayang sekali kalau ilmu tentang bisnis sayur yang dibagikan si Uwak siang itu berganti topik jadi bisnis bisul.

Dipukulan pertama, mataku hanya berkaca-berkaca saja, sebatang rokok aku nyalakan dan aku hisap untuk menenangkan aku yang agak kesakitan. Si Uwak tidak ngeh dan melanjutkan cerita. Aku bertanya kembali “Wak, emang sayur bisa bertahan berapa lama sih?” Ia terdiam, bukan gak bisa jawab, tapi karena lagi minum. Kemudian setelah ia minum habis air di gelasnya ia pun langsung menjawab pertanyaanku tadi, “Hahaha Sayur itu produk alam, bukan pabrik jadi gak bisa disimpan berbulan-bulan, siang ini kita punya barang maka malam nanti harus habis terjual, kalau gak ya keesokan harinya juga sudah membusuk. Gitu ban..hahaha” “Ow-ow-ow kerasnya dunia sayur”, gumamku dalam hati. Setelah menjawab itu sampai detail, Uwak aku lagi-lagi tertawa sendiri dan menepuk kakiku lagi secara tiba-tiba.

Mataku kini mulai mengeluarkan air mata, sehingga si Uwak memandangku karena gaya tubuhku yang menggunakan tanganku mengusap air mata tersebut. Sambil keheranan si Uwak bertanya, “Hahaha Kenapa kok nangis ban?” Aku dengan tenang menjawabnya, “Terharu wak, denger cerita uwak, bisnis sayur rupanya besar sekali resikonya. Belum persaingan dengan pedagang lain, lalu sayur yang membusuk, atau memang belum lagi sayurnya  tidak laku. duuh..”

Setelah panjang lebar ngobrol dan yang ke entah berapa kalinya ia menepuk tubuhku, karena tak hanya kaki tapi kadang juga si Uwak suka menepuk pundak, atau lengan bagian atas sebagai keakraban, tiba-tiba terdengar gemuruh suara petir. Suara itu menyebabkan aku berkata ke si Uwak, “Wak, kayaknya bakal hujan ya?” Kemudian Ia terlihat bakal pulang dengan berdiri dari duduknya,  itu membuat perasaanku lega, bahwa penderitaan sekaligus ilmu pengetahuan tentang bisnis sayur berakhir. Benar saja, si Uwak Udung itu pamit sambil menjawab pertanyaanku yang tadi, “Hahaha duh iya Ban, kayaknya Uwak harus segera pulang dulu aja, pakai motor soalnya. Hahaha.” *PLAAAAK*  si Uwak mendaratkan pukulan ringan terakhirnya sambil melengos pergi tanpa memandangku lagi. Pukulan ringan terakhirnya itu barangkali bagiku menjadi salah satu pukulan terberat dalam hidupku, Tepat mengenai bagian bisulku lagi, aku merasa ada nanah dan darah keluar, dengan kesakitan dan wajah berderai air mata aku ke kamar mandi. Benar saja, bisulku pecah. AW-AW-AW..

Hujan di luar turun, aku bisa tahu karena bunyi suaranya yang tik-tik-tik di atas genting.
Persis dalam lagu di masa kanak-kanakku dulu.
Mamahku dan Nenekku rupanya belum pulang.
Barangkali di jalan mereka dicegat bakso yang super enak dan terpaksa beli sambil berteduh.



Ditulis di Bandung,  yang sedang tanggal 5 Mei 2014




Kamis, 01 Mei 2014

Agar Percaya Diri

Kepada aku sendiri, kamu, dan juga kalian yang barangkali sering tak percaya diri dan sering ragu untuk berbuat sesuatu. Terlebih jika dihadapan orang banyak. Aku akan menukil sebuah kalimat dari sebuah kitab (buku) yang aku baca tadi malam. Bagiku ini luar biasa, sampai aku berpikir dan sibuk mengantuk pada malam tadi.

Maka janganlah kau dengar apa yang akan aku kutip ini karena tidak akan menimbulkan bunyi, tapi bacalah, dengan begitu semoga kau akan paham.

Minggu, 27 April 2014

Sri Yang Baik

Hanya karena aku mengenalmu, maka kamu ialah temanku, maka kamu ada dalam doaku. Seringnya begitu.

Ada kabar buruk yang membuat langit di kepalaku sementara ambruk. Kabar mengenai dirinya, temanku yang baru saja dipanggil Ia dengan cara yang tak terduga.

Adalah Sri Madriani Sila Yogi seorang yang baru saja aku kenal beberapa bulan ke belakang, seorang perempuan asal Bali yang berjuang hidup di Bandung demi menggapai cita-citanya dan harus rela jauh dari kedua orang tuanya lalu hidup mandiri disini.

Meski aku belum seberapa dekat menjadi temannya, tapi aku sempat banyak mendengar cerita tentangnya.

Sri yang baik, yang ketika tak ada ongkos menuju tempat kerja dengan rela berjalan kaki berkilo-kilo meter dari rumah menuju kantor (Dago-Pasteur), dengan alasan tak mau merepotkan teman-temannya untuk sekedar meminjam uang kepada mereka.

Sri yang baik, yang hampir setiap saat ia dan teman-temannya makan di sebuah cafĂ© atau tempat makan, ia selalu tak lupa menyisakan makanannya kemudian membungkusnya untuk ia bawa pulang ke rumah lalu diberikan pada anjing peliharaan kesayangannya.

Sri yang baik ialah seorang Hindu yang cukup taat, setiap kali ia memesan makanan, atau ditawari makanan, ia begitu berhati-hati dan selalu menolak apapun yang mengandung Sapi.

Jujur aku malu, aku yang sering menggerutu saat sedikit saja kehidupan tak mendukungku.
Aku malu, aku yang kekenyangan dan sering lupa kepada sesama makhluk.
Aku malu, aku yang terkadang lupa pada perintah agamaku. 

Malam tadi aku membaca sebuah portal berita mengenai sebuah kecelakaan, disana ternyata tertulis namanya yang terselip diantara nama-nama korban meninggal kecelakaan itu.

Selamat jalan Sri yang baik..
Engkau kini kembali pada Tuhan yang Maha Baik..

Bani-Bhena-Alit-Sri
Sebulan yang lalu, di sebuah tempat makan





Sabtu, 12 April 2014

Puisi Bosan

Tak lelahkah kita menjadi mesin penghasilan
Kesana-kemari mencari penghidupan
Berulang kali kita lewat taman perkuburan
Berulang kali juga kita lupa kematian

Ada yang takut akan kesepian
Ada juga yang menghindari keramaian
Beberapa disibukan persoalan
Beberapa lainnya muak memberikan jawaban

Kemana lagi kakimu akan dilangkahkan
Bumi ini luas memberikanmu pilihan
Menenggelamkan diri di perairan
Atau kekeringan di atas daratan

Sementara itu burung terbang bebas di atas awan
Terkekeh-kekeh melihat manusia dalam kesibukan
Yang tua sibuk melepas kenangan
Yang muda sibuk khawatirkan masa depan

Barangkali kau bosan nona dan tuan
Disana-sini penuh sesak oleh drama percintaan
Sebagian berakhir indah di pelaminan
Sebagian lainnya berakhir tragis putus di jalanan

Bagaimanapun ini adalah puisi bosan
Aku menulisnya tanpa pedulikan kiasan
Ditulis dengan tinta-tinta kecemasan
Sebagai mantra pengusir kekalutan


Bandung, 12 april 2014
sesaat sebelum matahari ditenggelamkan




Selasa, 08 April 2014

Kepada Ras Pemimpin Bumi

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi. “Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? “Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Alangkah beruntung kalian diciptakan sebagai manusia, menjadi ras yang diunggulkan Tuhan untuk membuat kuasa di muka bumi. Bukan golongan Malaikat, Jin, Hewan, atau Tetumbuhan yang dipercaya memilkul amanat untuk mengurusnya.  Lantas apa maksud Tuhan menjadikan manusia yang sering menumpahkan darah juga berbuat kerusakan sebagai pemimpin di bumi?

Barangkali dengan tugas ini Tuhan menguji kelayakan kalian sebagai manusia, sudah seberapa pantas kalian dicintaiNya, sudah selayak apakah kalian mensyukuri pemberianNya tersebut. Amanat yang teramat berat memikul kepercayaan untuk mengurus kelangsungan hidup banyak makhluk di daratan maupun lautan yang sebegitu luas ini.

Di tahun ini kalian sebagai manusia-manusia yang hidup di Indonesia, kalian dihadapkan pada pemilihan pemimpin, dengan arti kecil seorang yang kalian sebut sebagai presiden, karena dalam arti  luas setiap manusia bisa diartikan pemimpin bagi diri dan lingkungannya sendiri.

Kalian diberi tugas memilih seseorang untuk diberikan kuasa memimpin bangsa yang kalian sebut Indonesia. Sesungguhnya ini semua rumit, ini bukan tentang kelangsungan hidup ras manusia saja, namun juga ras lain yang hidup disini. Kalian lupa sebagai manusia yang menjadi egois terlalu peduli terhadap urusan-urusan kalian sendiri.

Perlu kalian ingat, yang kalian pimpin bukanlah manusia saja. Ada banyak jenis hewan melata dari ujung Aceh hingga Papua, ada banyak Tumbuhan yang hidup di negri ini, Ada pula banyak sekali ikan-ikan yang berenang hilir mudik di setiap perairan negri ini.

Bagaimana memimpin negerimu, jika saat kalian berorasi dengan segala basa-basi banyak rumput dan semut kecil yang kalian injak? Banyak sekali pohon yang dipaku dengan gambar-gambar poster bangsamu yang menurutku tidak gagah sama sekali. Belum lagi sampah-sampah usai pesta demokrasi bangsa kalian usai. Sampah-sampah poster itu seenaknya kalian bakar dan mencemari si Udara, beberapa pula terbuang ke sungai dan menghambat jalur si Air untuk melaksanakan tugasnya menuju lautan.

Rabu, 02 April 2014

Kepulangan Teman

Subuh tadi aku mendengar berita duka yang dikabarkan pohon salak berwarna jingga. Duka dan luka saja membuatku bingung, keduanya sama-sama kepedihan. Oh mungkin luka ialah kepedihan yang bisa lihat secara fisik seperti borok barangkali. Sedang duka ialah kepedihan yang bermuara dalam batin.

Aku percaya bahwa manusia memiliki tiga unsur dalam dirinya. Akal, jasad, dan ruh, lalu ketiganya juga perlu makan agar mereka tak sakit atau mati. Jasad perlu nutrisi berupa nasi lauk pauk, Akal perlu ilmu, dan Ruh memerlukan ibadah (interaksi dengan Tuhan).

Berita duka dari si pohon salak tadi ialah kabar bahwa teman lamaku telah gugur dalam pertempuran melawan sakit jasad yang dideritanya. Konon ia terkena jenis racun yang sangat aneh, berbagai tabib telah ia datangi, namun tak kunjung juga kembali sehat.

Sabtu, 22 Maret 2014

malam, sinar, dan suara

siluet  insan ditikam malam
ditampar dosa, terkucil diantara jutaan sinar bintang
terkadang sunyi memiliki bunyi
setidaknya riuh bergemuruh dalam batok kepala sendiri


persimpangan jalan selalu membingungkan
nada-nada kegelapan mengusik tentram bukit hati yang landai
hanya ada dua pilihan, ke kiri atau ke kanan
tapi waktu enggan berkompromi untuk banyak berandai-andai


seakan semakin samar, padahal bola mata tak pernah berdusta
namun bisikan nurani ialah sebenar-benarnya suara
keindahan yang terlihat mata, tak selalu begitu adanya
mana yang nyata? dimensi semesta ada di hati dan di kepala