Kepada kamu yang indah disana.
Ini tampak lucu lagi, saat aku ingin berkata bahwa aku rindu tapi harus merindukan
apa? Pertemuan? Kita bahkan belum sempat bertatap muka langsung dengan
menyengaja semenjak hari dimana aku tersadar bahwa kamu ialah seorang yang
seharusnya tak aku lewatkan keindahannya begitu saja.
Bahkan tangan kita belum pernah untuk sekedar bersentuhan
dalam sebuah jabat salam, apalagi untuk saling menggenggam tangan berjalan mengitari taman pada sebuah sore. Tepat! itu hanya
mimpi indah di tidur siangku. Inginku untuk membuat satu memori
sebelum kamu benar pergi mengejar mimpi ialah dengan berbagi tawa, canda, dan
irama-irama menyenangkan di sebuah kedai kopi. Memori yang aku harap menjadi
satu dari sekian banyak alasan kamu merindukan kota ini.