Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

Maka aku akan merindukannya

Kepada @poscinta.

Tak ada kalimat pembuka yang teramat istimewa rasanya selain ucapan terimakasih.
Terimakasih untuk poscinta yang melalui program tantangan #30HariMenulisSuratCinta ini membangkitkan kembali gairahku bercinta dengan kata-kata.  Dan dengan itu pula aku jadi sering menulis surat kepada apapun, kepada teman-teman penulis lainnya, kepada selebtweet, kepada orang-orang yang bernama Asep, bahkan kepada pohon dekat rumahku. Maklum saja karna aku jarang sekali membuat surat, waktu sekolah dulu saja jika aku sakit orang tua aku lah yang menuliskan suratnya untukku. Yaiyalah..

Kamis, 27 Februari 2014

Manusia ialah gelas-gelas istimewa

Surat balasan untuk Ajeka
Halo lagi Ajeka, aku harap kamu sudah mandi dan setidaknya sudah menggunakan wewangian minimal dua galon sebelum membaca suratku ini. Bukan apa-apa aku takut kamu akan semakin dekil terkotori melalui jawabanku ini.

Selasa, 25 Februari 2014

Kepada penenun dan si anak ajaib

Haloo kalian,.
Kalian yang sering memanggilku dengan kata depan ‘kakak’. Oke mungkin dari segi umur aku lebih tua dari kalian, itu pun kehendak Tuhan melalui langit. Tapi dari cara kalian membumi dengan tulisan-tulisan jemari aku mungkin hanyalah sebutir adik balita.

Senin, 17 Februari 2014

JA(t)UH CINTA

Aku ingin mencinta, namun hanya kosong kutemui dalam nyata
Bait-bait rindu berserakan menjadi debu
Kepingan rasa sayang kini berwujud bayang

Tiada lagi peluk, yang tersisa hanyalah bunyi-bunyi burung mematuk
Tiada lagi kecup, karena bunga-bunga di tamanku semuanya kuncup
Tiada lagi belai, seakan asa tiada lagi aku gapai

Dimana lagi indah, sekelilingku ialah dinding gundah
Kemana lagi senang, gerbang besar itu kini hanyalah untuk kukenang
Siapa lagi itu bahagia, aku pikir namanya sudah berganti menjadi phobia

Lelah sungguh aku lelah, maka berhentilah
Cukup,mari akhiri ini dengan beberapa kata
Pintaku sederhana, aku hanya ingin saling mencinta

Minggu, 09 Februari 2014

Aku Seorang Pembunuh

Semalam kau datang lagi.
Bahkan kali ini dengan begitu berani, kau mendatangiku seorang diri.
Dimanakah kawan-kawanmu yang biasanya kau bawa serta untuk menyerangku seperti biasanya?
Ataukah memang kau sudah cukup kuat untuk menghadapiku?
Asal engkau tahu, aku tak akan mengurangi kewaspadaanku sedikitpun terhadapmu.

Tujuh malam sudah kau terus mengincarku dengan anggota kelompokmu yang terus berganti.
Aku tak tahu apa yang mendasarimu sehingga kini tampak begitu percaya diri.
Mungkinkah karena engkau kini mengetahui titik-titik kelemahanku?
Atau dendammu padaku sudah begitu memuncak, karena banyak kerabatmu yang sudah kubuat menemui ajalnya?

Sabtu, 08 Februari 2014

Kembali

Harus dengan kalimat apa aku mengawali surat ini. Surat atas rasa cinta, kekaguman, juga pernyataan perasaan sayang yang kini kian hebat menjadi bait-bait kerinduan kepadamu. Kepada Kakekku yang kini terbaring dalam lelapnya kesejatian takdir untuk makhluk bernyawa. Kini hanya nisan yang menandai keberadaanmu, dengan pusara sebagai rumah dimana kau tinggal dalam nyata ini.

Bulan Juni tahun 2013 lalu menjadi bulan tanpa pancaran sinar akibat puluhan pelayat yang menutupi sang surya untuk memberikan cahayanya. Gelap kian merangkap bersama tangisan-tangisan sendu yang terus menderu. Irama-irama suara manusia yang merapal untaian do’a semakin menyadarkanku bahwa ini semua memang benar-benar nyata.

Rabu, 05 Februari 2014

Teruntuk Buah Hatiku Nanti

Hai nak, ini Ayah.

Apa kabarmu saat ini? Apa parasmu merasa mirip denganku? Atau dengan Ibu mu? Apa engkau lelaki ataukah perempuan?

Maaf ya nak, jika surat dari Ayah ini sudah di buka dengan berbagai macam pertanyaan. Maklum saja karna saat Ayah menulis surat ini jangankan mampu menerawang bagaimana perangaimu, Ibu mu saja belum Ayah temui.

Selasa, 04 Februari 2014

Surat Kecil Untuk Tuan

Untuk Dausgonia.

Sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan diri, karena tak kenal maka tak “wawuh". Klo tak  “wawuh” maka tak “heureuy”.

Perkenalkan nama saya Bani Sya’ban Nur Kholiq, panggil saja Bani. Bukan apa-apa soalnya Kholiq ialah nama dari ayah saya, jadi saya membiasakan orang-orang memanggil saya Bani, takut sewaktu-waktu main ke rumah dan malah jadi lebih akrab sama ayah saya.

Oiyah saya memiliki akun twitter @baniholic. Kalo berkenan mungkin kak Daus bisa mengingat-ingat suatu malam dimana kak Daus mention saya yang isinya saya tidak mengerti, namun setelah ditelusuri ternyata kak Daus saat itu sedang mencari sprei bermotif Jerapah. Entahlah apa yang salah dengan jari kakak saat itu sehingga kakak salah mention yang harusnya tertuju pada tukang sprei. PFfft…

Senin, 03 Februari 2014

Bianglala


Hidup bagai menaiki bianglala.
Berputar pasti memberimu posisi.
Di atas dan di bawah.

Pejamkan mata rasakan hembusan udaranya.
Bukalah mata lihatlah angkasa seakan mendekat dengan kepala.
Tertawalah, tersenyumlah, aku bianglala wahana yang ingin melihatmu merasa bahagia.

Kini posisimu sedang berada di bawah, bahkan mungkin terendah.
Yang kau perlukan hanyalah rasa syukur, sebab kau akan segera ditinggikan.
Sadarilah disana tak ada jalan lain kecuali naik.

Minggu, 02 Februari 2014

Untuk Tuan Pohon Kayu

Sore ini tak biasanya aku menyiapkan dua cangkir kopi untuk menemaniku duduk di teras rumahku. Bukan karena ada tamu, tapi karena ini...

Hai pohon kayu..
Maaf aku sudah lancang untuk mengirim surat padamu, padahal berkenalan dan menjabat tanganmu saja belum pernah kita lakukan.
Hai pohon kayu, apa kau tidak merasa pegal untuk terus berada pada titik yang sama? Apa kau tidak iri satu kalipun melihat kami para manusia terus berlalu lalang disekitarmu?

Apa mungkin sebenarnya kamu ingin menghampiriku saat sore setiap kali aku duduk-duduk di teras menikmati senja dengan secangkir kopi? Aku pun sesungguhnya ingin mengajakmu untuk bergabung dan berbincang, karna aku terkadang bosan berbicara dengan manusia sepertiku. Aku kadang merasa tak enak cerita pada mereka karna mereka bisa mengerti bahasaku dan mungkin saja suatu saat ia mengumbar rahasia-rahasiaku.

Sabtu, 01 Februari 2014

Untuk Asep

Yang terhormat, saudara Asep di tempatnya masing-masing.

    Mungkin saat ini kau berada di sebuah sekolahan, pasar,  tempat hiburan, sawah, gurun, ataupun sedang terjebak di dalam sumur. Entahlah aku tak tahu pastinya. Namun yang ku tahu pasti ialah seringnya aku menemukan namamu dimanapun aku bernapas.
Entah berapa banyak sudah aku menemukamu sep. Mulai dari Asep tetanggaku yang hobinya main kartu di pos ronda setiap malam, Asep yang putihnya lebih putih dari cewek saat aku SMP dulu, Asep yang sukses menjadi bandar knalpot, Asep yang menjadi panitia lomba tujuh belasan, dall. (dan asep lain-lainnya -red).